TK Islam Di Depok, TK Islam Terbaik Di Solo, TK Islam Terbaik
TK favorit dan TK terbaik, itulah tujuannya. TK Islam dan TK Entrepreneur, itulah citranya. Alhamdulillah telah hadir di Jakarta, Depok, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dll
Pelukan seorang ayah membuat anak lebih mandiri, tidak penakut, dan lebih kuat dalam berinteraksi dalam kehidupan sosialnya.
Pelukan seorang ibu membuat anak menjadi pribadi yang mudah memberikan kasih sayang atau rasa simpati kepada orang lain.
Rasulullah bermain dengan anak-anak pamannya, anak-anak berlomba berlari menuju pangkuan Rasulullah, lalu Rasulullah memeluk & mencium mereka.
Barang siapa tidak menyayangi manusia, maka Allah tidak akan menyayanginya (HR.Muslim)
Senin, 03 Oktober 2016
Rabu, 21 September 2016
TK di Pekanbaru, TK di Medan, Tk di Aceh
TK di Pekanbaru, TK di Medan, Tk di Aceh
Kata suami mendidik itu urusan istri, tugas saya hanya menafkahi, WADUH! Mending nafkahnya sudah mencukupi. Walau sudah mencukupi mendidik tetap urusan suami istri.
Anak laki-laki belajar banyak dari ayah. Ia belajar maskulinitas dari ayah. Ia belajar bagaimana ayah memperlakukan wanita.
Anak laki-laki belajar banyak dari ayah. Ia belajar mengenal baligh dari ayah.
Utamanya anak laki-laki belajar kepemimpinan dari seorang ayah. Bagaimana memimpin diri sendiri, memimpin keluarga dan memimpin orang lain.
Ayah adalah model untuk anak laki-laki
Anak perempuan juga belajar dari ayah. Saat ayah memperlakukan istri dengan penuh cinta, anak perempuan belajar kepercayaan terhadap laki-laki.
Saat ayah memandang anak perempuan dengan sinar mata cinta, ia belajar pengakuan wanita dari seorang laki-laki
Anak laki-laki ataupun perempuan membutuhkan sosok ayah dalam kehidupannya.
Nabi Ibrahim adalah salah satu contoh ayah yang patut diteladani. 2 dari 3 anaknya adalah nabi, itu karena perannya mendidik bersama istri Nabi Muhammad contoh ayah teladan.
Ia terkenal sebagai ayah penyayang. Anak kandung dan anak angkat tetap ia sayang
salah satu contoh kasih sayang Nabi Muhammad kepada anak-anaknya.
Ia bermain bersama anak-anaknya, ia latih anak kandungnya menjadi mandiri dan ia beri kepercayaan kepada anak angkat agar percaya diri.
Kata suami mendidik itu urusan istri, tugas saya hanya menafkahi, WADUH! Mending nafkahnya sudah mencukupi. Walau sudah mencukupi mendidik tetap urusan suami istri.
Anak laki-laki belajar banyak dari ayah. Ia belajar maskulinitas dari ayah. Ia belajar bagaimana ayah memperlakukan wanita.
Anak laki-laki belajar banyak dari ayah. Ia belajar mengenal baligh dari ayah.
Utamanya anak laki-laki belajar kepemimpinan dari seorang ayah. Bagaimana memimpin diri sendiri, memimpin keluarga dan memimpin orang lain.
Ayah adalah model untuk anak laki-laki
Anak perempuan juga belajar dari ayah. Saat ayah memperlakukan istri dengan penuh cinta, anak perempuan belajar kepercayaan terhadap laki-laki.
Saat ayah memandang anak perempuan dengan sinar mata cinta, ia belajar pengakuan wanita dari seorang laki-laki
Anak laki-laki ataupun perempuan membutuhkan sosok ayah dalam kehidupannya.
Nabi Ibrahim adalah salah satu contoh ayah yang patut diteladani. 2 dari 3 anaknya adalah nabi, itu karena perannya mendidik bersama istri Nabi Muhammad contoh ayah teladan.
Ia terkenal sebagai ayah penyayang. Anak kandung dan anak angkat tetap ia sayang
salah satu contoh kasih sayang Nabi Muhammad kepada anak-anaknya.
Ia bermain bersama anak-anaknya, ia latih anak kandungnya menjadi mandiri dan ia beri kepercayaan kepada anak angkat agar percaya diri.
Selasa, 20 September 2016
TK Di Bogor, TK Di Bintaro, TK Di BSD
TK Di Bogor, TK Di Bintaro, TK Di BSD
Children said: Pagi-pagi masih ngantuk, harus sekolah pula, ibu ayah tidak ada senyumnya, bisanya Cuma maksa, di sekolah tak ada sambutan wajah ceria… betapa tidak asyik dunia… Nah loh
Children said : Di sekolah cuma duduk dengerin guru bicara… ngerjain tugas yaa itu-itu juga… Gak ada yang lain apa?! Nah loh…
Children said : Pulang sekolah langsung les… sampai rumah sore seperti ayah pulang kerja… seharian yang dikerjain itu-itu aja… Gak ada yang lain apa ?! Nah loh…
Children said : sampai rumah sambutan senyum pun gak ada, apalagi ditanya hari ini 'senangkah'? Yang menyambut gadget sajah… atau ditanya ada PR gak? Nah loh...
Children said: Apakah orang dewasa tidak tahu? Senyum dan wajah ceria itu memotivasiku, tandanya mereka mendukungku…
Children said: Apakah orang dewasa tidak tahu? Ketika mereka bertanya tentang perasaanku, itu tandanya mereka peduli dan menghargaiku…
Children said: Apakah orang dewasa tidak tahu? Ketika aku merasa didukung dan dihargai… perjalanan sulit pun terasa mudah aku lalui…
Karena aku berfikir : Betapa indahnya dunia ini… #Anak itu investasi
Children said: Pagi-pagi masih ngantuk, harus sekolah pula, ibu ayah tidak ada senyumnya, bisanya Cuma maksa, di sekolah tak ada sambutan wajah ceria… betapa tidak asyik dunia… Nah loh
Children said : Di sekolah cuma duduk dengerin guru bicara… ngerjain tugas yaa itu-itu juga… Gak ada yang lain apa?! Nah loh…
Children said : Pulang sekolah langsung les… sampai rumah sore seperti ayah pulang kerja… seharian yang dikerjain itu-itu aja… Gak ada yang lain apa ?! Nah loh…
Children said : sampai rumah sambutan senyum pun gak ada, apalagi ditanya hari ini 'senangkah'? Yang menyambut gadget sajah… atau ditanya ada PR gak? Nah loh...
Children said: Apakah orang dewasa tidak tahu? Senyum dan wajah ceria itu memotivasiku, tandanya mereka mendukungku…
Children said: Apakah orang dewasa tidak tahu? Ketika mereka bertanya tentang perasaanku, itu tandanya mereka peduli dan menghargaiku…
Children said: Apakah orang dewasa tidak tahu? Ketika aku merasa didukung dan dihargai… perjalanan sulit pun terasa mudah aku lalui…
Karena aku berfikir : Betapa indahnya dunia ini… #Anak itu investasi
Kamis, 15 September 2016
TK di Medan, TK di Aceh, TK di Pekanbaru
TK di Medan, TK di Aceh, TK di Pekanbaru
Pendidikan tauhid itu penting. Itu dasar pendidikan. Orang kaya mau peduli dhuafa itu karena ada tauhidnya.
Pejabat tidak korupsi itu karena ada tauhidnya. Cerdas tidak membodohi karena ada tauhidnya.
Pengusaha tidak membohongi karena ada tauhidnya. Tauhid pangkal keselamatan dan kedamaian.
Pendidikan tauhid kepada anak, sampai diabadikan dalam Al-Quran. Itu kisah keluarga Lukman. Silahkan cek Al-Quran surat Lukman.
Tauhid itu meng-esakan Allah. Kalau orang korupsi, didalam hatinya ada tuhan uang. Kalau cerdas membodohi dihatinya ada tuhan pikiran.
Jika dikeluarga telah ditanamkan pendidikan tauhid, cari pula sekolah yang menanamkan pendidikan tauhid, jadi sinkron semuanya.
Pendidikan tauhid itu penting. Itu dasar pendidikan. Orang kaya mau peduli dhuafa itu karena ada tauhidnya.
Pejabat tidak korupsi itu karena ada tauhidnya. Cerdas tidak membodohi karena ada tauhidnya.
Pengusaha tidak membohongi karena ada tauhidnya. Tauhid pangkal keselamatan dan kedamaian.
Pendidikan tauhid kepada anak, sampai diabadikan dalam Al-Quran. Itu kisah keluarga Lukman. Silahkan cek Al-Quran surat Lukman.
Tauhid itu meng-esakan Allah. Kalau orang korupsi, didalam hatinya ada tuhan uang. Kalau cerdas membodohi dihatinya ada tuhan pikiran.
Jika dikeluarga telah ditanamkan pendidikan tauhid, cari pula sekolah yang menanamkan pendidikan tauhid, jadi sinkron semuanya.
Rabu, 14 September 2016
TK Islam di Aceh, TK Islam di Medan, TK Islam di Pekanbaru
TK Islam di Aceh, TK Islam di Medan, TK Islam di Pekanbaru
Menurut Daniel Goleman penulis buku Emotional Intelligence, perasaan yang dirasakan seseorang saat masa kanak-kanak akan banyak mempengaruhi pembentukan karakternya hingga dewasa.
Perasaan yang muncul pada setiap anak pastilah berasal dari pengalamannya berinteraksi, apakah itu berinteraksi dengan anggota keluarga atau teman-teman sebaya. Perasaan yang nyaman yang dirasakan oleh anak mendorong ia berfikir positif tentang orang-orang disekitarnya dan lingkungannya. Menumbuhkan rasa percaya diri, aman dan cinta terhadap orang di sekitar dan kepada lingkungannya. Namun dalam pengalaman interaksi, tak selamanya anak memiliki perasaan yang nyaman, mungkin saja jika tidak dirumah, dilingkungan sekolah anak pernah merasakan pengalaman yang membuat ia tidak nyaman seperti kesal dan marah atau perasaan negative lainnya, hal ini tidak dapat kita hindari dalam interaksi. Sedangkan perasaan negative ini pun akan membangun persepsi negative anak terhadap dirinya sendiri, terhadap orang-orang disekitar dan kepada lingkungannya, misalkan rasa tidak percaya diri, dengki, dendam dsb jika kita tidak segera menetralkan perasaannya.
Lalu bagaimana cara penanggulanggannya ?
Bisa dengan cara berikut yaitu :
1. Mengakui atau menghargai perasaan anak
2. Berbicara dengan anak (ngobrol) untuk menggali perasaan anak atau pengalaman anak saat interaksi dihari itu, maksimal sebelum anak tidur, agar jika ada pengalaman buruk berkaitan dengan perasaannya dapat segera dinetralkan oleh orangtua dan tidak sampai masuk ke alam bawah sadar saat anak tidur.
3. Berdoa kepada Allah agar Allah selalu menjaga perasaan anak sehingga berdampak baik pada karakter anak (bukankah Allah sebaik-baik penjaga )
Bagaimana cara mengakui atau menghargai perasaan anak ???
1. Peka terhadap perasaan mereka, sebut atau namai kemungkinan perasaan mereka, contohnya : “adik sedang marah yah?”
Lalu dengarkan mereka 100% dalam mengungkapkan perasaannya, tatap matanya dengan tatapan datar atau sayang. (berikan perhatian dan pengakuan)
Ketika kita biarkan anak mengungkap emosi dan pikirannya dengan bebas dan saat kita ada untuk memberi dukungan emosional, kita akan melihat mereka dapat menemukan solusi sendiri untuk permasalahan mereka. Kelebihan lainnya dari pendekatan ini adalah anak akan mengembangkan rasa percaya diri untuk berpikir bagi dirinya sendiri dan menghadapi tantangan – tantangan hidup.
Hal-hal yang perlu diperhatikan saat mendengar informasi mengenai pengalaman bermain anak:
a. Jika mendengar informasi anak melakukan kesalahan (contoh : menjahili teman) sebaiknya tetap dengarkan anak bercerita kemudian beri gambaran efek dari perbuatannya sehingga ia paham dan menjawab sendiri efek dari perbuatannya.
b. Jika anak jujur menceritakan kesalahannya : apresiasi kejujurannya (focus kepada kejujurannya) dan maafkan kesalahannya namun tetap sampai pada anak paham efek dari perbuatannya. Hindari marah saat anak berusaha jujur mengakui kesalahannya, karena akan berakibat anak kemudian akan jera untuk berkata jujur atau dapat memanipulasi informasi untuk terhindar dari dimarahi.
c. Hindari hal-hal berikut ini :
• Memberi Nasihat, misal: “aku tadi berkelahi dengan Vino disekolah”, respon kita pada umumnya “berkelahi lagi, berkelahi lagi, adik mau jadi preman yang sering berkelahi ?, hanya preman dan penjahat yang menyelesaikan masalah dengan berkelahi”
• Menginterogasi, misal: “mainan aku hilang di sekolah” respon kita pada umumnya “tuuu kan mama bilang juga jangan bawa mainan ke sekolah. kamu yakin bukan kamu sendiri yang menghilangkan? Yakin kamu tidak lupa, coba diingat kembali”
• Menyalahkan dan menuduh, misal: “tadi aku dihukum karena tidak ikut aturan” respon kita pada umumnya “makanya kamu harus ikut aturan”
2. Mengenali dan mengambarkan emosi
Perlu bagi kita sesaat untuk mempelajari makna dari emosi, karena ini penting bagi kita untuk bisa mencerminkan emosi anak dan mengerti dengan pasti apa yang mereka rasakan. Dengan dimengertinya perasaan mereka, maka
mudah bagi mereka untuk terbuka dan bicara tentang masalah mereka. Berikut adalah emosi yang umumnya dialami oleh manusia.
Nama Emosi dan Makna-nya :
a. Marah – Merasakan adanya ketidakadilan
b. Rasa bersalah – Kita merasa tidak adil terhadap orang lain
c. Takut – Kita diharapkan antisipasi karena sesuatu yang tak diinginkan bisa saja terjadi
d. Frustrasi – Melakukan sesuatu berulangkali dan hasilnya tak sesuai harapan artinya kita harus cari cara lain
e. Kecewa – Apa yang diinginkan tidak bisa terwujud
f. Sedih – Kehilangan sesuatu yang dirasa berharga
g. Kesepian – Kebutuhan akan relasi yang bermakna bukan hanya sekedar berteman
h. Rasa tidak mampu – Kebutuhan untuk belajar sesuatu karena ada sesuatu yang tak bisa dilakukan dengan baik
i. Rasa bosan – Kebutuhan untuk bertumbuh dan mendapatkan tantangan baru
j. Stress – Sesuatu yang terlalu menyakitkan dan harus segera dihentikan
k. Depresi – Sesuatu yang terlalu menyakitkan dan harus segera dihentikan
Berikut ungkapan terkenal dari Dorothy Law Nolte, ANAK BELAJAR DARI KEHIDUPANNYA, untuk renungan kita orang tua :
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar membenci.
Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah.
Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan rasa iri, ia belajar kedengkian.
Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai.
Jika anak dibesarkan dengan keadilan, ia belajar rasa aman.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri.
Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan.
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.
Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran.
Jika anak dibesarkan dengan keramahan, ia meyakini sungguh indah dunia ini
Hanya kepada Allah kita berserah, tak henti berdoa agar Allah senantiasa melindungi akhlak anak-anak kita.
*Sumber :
- Yayasan Buah Hati
- Daniel Goleman, Emotional Intelligence, 1995
Menurut Daniel Goleman penulis buku Emotional Intelligence, perasaan yang dirasakan seseorang saat masa kanak-kanak akan banyak mempengaruhi pembentukan karakternya hingga dewasa.
Perasaan yang muncul pada setiap anak pastilah berasal dari pengalamannya berinteraksi, apakah itu berinteraksi dengan anggota keluarga atau teman-teman sebaya. Perasaan yang nyaman yang dirasakan oleh anak mendorong ia berfikir positif tentang orang-orang disekitarnya dan lingkungannya. Menumbuhkan rasa percaya diri, aman dan cinta terhadap orang di sekitar dan kepada lingkungannya. Namun dalam pengalaman interaksi, tak selamanya anak memiliki perasaan yang nyaman, mungkin saja jika tidak dirumah, dilingkungan sekolah anak pernah merasakan pengalaman yang membuat ia tidak nyaman seperti kesal dan marah atau perasaan negative lainnya, hal ini tidak dapat kita hindari dalam interaksi. Sedangkan perasaan negative ini pun akan membangun persepsi negative anak terhadap dirinya sendiri, terhadap orang-orang disekitar dan kepada lingkungannya, misalkan rasa tidak percaya diri, dengki, dendam dsb jika kita tidak segera menetralkan perasaannya.
Lalu bagaimana cara penanggulanggannya ?
Bisa dengan cara berikut yaitu :
1. Mengakui atau menghargai perasaan anak
2. Berbicara dengan anak (ngobrol) untuk menggali perasaan anak atau pengalaman anak saat interaksi dihari itu, maksimal sebelum anak tidur, agar jika ada pengalaman buruk berkaitan dengan perasaannya dapat segera dinetralkan oleh orangtua dan tidak sampai masuk ke alam bawah sadar saat anak tidur.
3. Berdoa kepada Allah agar Allah selalu menjaga perasaan anak sehingga berdampak baik pada karakter anak (bukankah Allah sebaik-baik penjaga )
Bagaimana cara mengakui atau menghargai perasaan anak ???
1. Peka terhadap perasaan mereka, sebut atau namai kemungkinan perasaan mereka, contohnya : “adik sedang marah yah?”
Lalu dengarkan mereka 100% dalam mengungkapkan perasaannya, tatap matanya dengan tatapan datar atau sayang. (berikan perhatian dan pengakuan)
Ketika kita biarkan anak mengungkap emosi dan pikirannya dengan bebas dan saat kita ada untuk memberi dukungan emosional, kita akan melihat mereka dapat menemukan solusi sendiri untuk permasalahan mereka. Kelebihan lainnya dari pendekatan ini adalah anak akan mengembangkan rasa percaya diri untuk berpikir bagi dirinya sendiri dan menghadapi tantangan – tantangan hidup.
Hal-hal yang perlu diperhatikan saat mendengar informasi mengenai pengalaman bermain anak:
a. Jika mendengar informasi anak melakukan kesalahan (contoh : menjahili teman) sebaiknya tetap dengarkan anak bercerita kemudian beri gambaran efek dari perbuatannya sehingga ia paham dan menjawab sendiri efek dari perbuatannya.
b. Jika anak jujur menceritakan kesalahannya : apresiasi kejujurannya (focus kepada kejujurannya) dan maafkan kesalahannya namun tetap sampai pada anak paham efek dari perbuatannya. Hindari marah saat anak berusaha jujur mengakui kesalahannya, karena akan berakibat anak kemudian akan jera untuk berkata jujur atau dapat memanipulasi informasi untuk terhindar dari dimarahi.
c. Hindari hal-hal berikut ini :
• Memberi Nasihat, misal: “aku tadi berkelahi dengan Vino disekolah”, respon kita pada umumnya “berkelahi lagi, berkelahi lagi, adik mau jadi preman yang sering berkelahi ?, hanya preman dan penjahat yang menyelesaikan masalah dengan berkelahi”
• Menginterogasi, misal: “mainan aku hilang di sekolah” respon kita pada umumnya “tuuu kan mama bilang juga jangan bawa mainan ke sekolah. kamu yakin bukan kamu sendiri yang menghilangkan? Yakin kamu tidak lupa, coba diingat kembali”
• Menyalahkan dan menuduh, misal: “tadi aku dihukum karena tidak ikut aturan” respon kita pada umumnya “makanya kamu harus ikut aturan”
2. Mengenali dan mengambarkan emosi
Perlu bagi kita sesaat untuk mempelajari makna dari emosi, karena ini penting bagi kita untuk bisa mencerminkan emosi anak dan mengerti dengan pasti apa yang mereka rasakan. Dengan dimengertinya perasaan mereka, maka
mudah bagi mereka untuk terbuka dan bicara tentang masalah mereka. Berikut adalah emosi yang umumnya dialami oleh manusia.
Nama Emosi dan Makna-nya :
a. Marah – Merasakan adanya ketidakadilan
b. Rasa bersalah – Kita merasa tidak adil terhadap orang lain
c. Takut – Kita diharapkan antisipasi karena sesuatu yang tak diinginkan bisa saja terjadi
d. Frustrasi – Melakukan sesuatu berulangkali dan hasilnya tak sesuai harapan artinya kita harus cari cara lain
e. Kecewa – Apa yang diinginkan tidak bisa terwujud
f. Sedih – Kehilangan sesuatu yang dirasa berharga
g. Kesepian – Kebutuhan akan relasi yang bermakna bukan hanya sekedar berteman
h. Rasa tidak mampu – Kebutuhan untuk belajar sesuatu karena ada sesuatu yang tak bisa dilakukan dengan baik
i. Rasa bosan – Kebutuhan untuk bertumbuh dan mendapatkan tantangan baru
j. Stress – Sesuatu yang terlalu menyakitkan dan harus segera dihentikan
k. Depresi – Sesuatu yang terlalu menyakitkan dan harus segera dihentikan
Berikut ungkapan terkenal dari Dorothy Law Nolte, ANAK BELAJAR DARI KEHIDUPANNYA, untuk renungan kita orang tua :
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar membenci.
Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah.
Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan rasa iri, ia belajar kedengkian.
Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai.
Jika anak dibesarkan dengan keadilan, ia belajar rasa aman.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri.
Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawanan.
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.
Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran.
Jika anak dibesarkan dengan keramahan, ia meyakini sungguh indah dunia ini
Hanya kepada Allah kita berserah, tak henti berdoa agar Allah senantiasa melindungi akhlak anak-anak kita.
*Sumber :
- Yayasan Buah Hati
- Daniel Goleman, Emotional Intelligence, 1995
Senin, 12 September 2016
TK di Pekanbaru, TK di Aceh, TK di Medan
TK di Pekanbaru, TK di Aceh, TK di Medan
Teman anak-anak kita memberi pengaruh besar pada perilaku anak kita, bantu mereka untuk mendapatkan teman dan lingkungan baiknya.
Pengaruh teman anak tidak bisa dihindarkan, orangtua bisa memberi bekal agar anak mampu melakukan penolakan.
Orangtua memposisikan diri sebagai sahabat anak, agar informasi pengalaman anak mudah didapat.
Orangtua menjadi sahabat, anak mudah untuk curhat.
Orangtua tak mungkin memberi pengawasan 24 jam, untuk anak tak berhenti didoakan dan yakin bahwa Allah sebaik-baiknya memberi penjagaan.
Anak masih belum sesuai harapan, padahal upaya sudah dimaksimalkan, jangan pernah berhenti memberi teladan dan jadikan doa sebagai kekuatan.
Teman anak-anak kita memberi pengaruh besar pada perilaku anak kita, bantu mereka untuk mendapatkan teman dan lingkungan baiknya.
Pengaruh teman anak tidak bisa dihindarkan, orangtua bisa memberi bekal agar anak mampu melakukan penolakan.
Orangtua memposisikan diri sebagai sahabat anak, agar informasi pengalaman anak mudah didapat.
Orangtua menjadi sahabat, anak mudah untuk curhat.
Orangtua tak mungkin memberi pengawasan 24 jam, untuk anak tak berhenti didoakan dan yakin bahwa Allah sebaik-baiknya memberi penjagaan.
Anak masih belum sesuai harapan, padahal upaya sudah dimaksimalkan, jangan pernah berhenti memberi teladan dan jadikan doa sebagai kekuatan.
Kamis, 08 September 2016
TK KHALIFAH: TK Islam Terbaik di Aceh, Medan dan Pekanbaru
TK KHALIFAH: TK Islam Terbaik di Aceh, Medan dan Pekanbaru
Potensi manusia ada 4 macam : akal, fisik, jiwa dan agama (menurut para ahli). Potensi manusia dapat memberi manfaat, dapat pula memberi bencana. Tergantung bagaimana mengelolanya :)
Akal, fisik, jiwa dan agama dikelola oleh nafsu. Baik buruknya nafsu dipengaruhi oleh pendidikan, pendidikan keluarga dan lingkungan.
Singkatnya, pendidikan itu ada 4 pelajaran, pelajaran akal, fisik, jiwa dan agama, yang berguna untuk kehidupan nyata. Pendidikan akal, fisik, jiwa dan agama adalah keterkaitan, semuanya tidak boleh dipisahkan. Hilang satu jadi jomplang bahkan menghancurkan.
Bom atom jadi mematikan karena kepandaian akal dan kekuatan fisik tidak diimbangi dengan ketenangan jiwa dan keyakinan agama.
Akal, fisik, jiwa dan agama dikelola oleh nafsu. Baik buruknya nafsu dipengaruhi oleh pendidikan, pendidikan keluarga dan lingkungan.
Singkatnya, pendidikan itu ada 4 pelajaran, pelajaran akal, fisik, jiwa dan agama, yang berguna untuk kehidupan nyata. Pendidikan akal, fisik, jiwa dan agama adalah keterkaitan, semuanya tidak boleh dipisahkan. Hilang satu jadi jomplang bahkan menghancurkan.
Bom atom jadi mematikan karena kepandaian akal dan kekuatan fisik tidak diimbangi dengan ketenangan jiwa dan keyakinan agama.
Pendidikan di rumah dan sekolah harus mencakup akal, fisik, jiwa dan agama agar terasa manfaatnya dikehidupan nyata. Ilmuwan dunia Ibnu Sina, Al-Jabbar, Ibnu Rusyd, Ibnu Batutah adalah diantara ilmuwan yang cerdas akal, fisik, jiwa dan agama.
Pastikan pendidikan anak-anak mencakup pendidikan akal, fisik, jiwa dan agama, baik di rumah ataupun di sekolah.
TK KHALIFAH: TK Islam Terbaik di Aceh, Medan dan Pekanbaru
Rabu, 24 Agustus 2016
TK Di Aceh TK Di Medan TK Di Pekanbaru
Peran Ayah Untuk Anak Perempuan TK Di Aceh TK Di Medan TK Di Pekanbaru
PERAN AYAH UNTUK ANAK PEREMPUAN
Sosok ayah bagi anak perempuan, menjadi tolak ukur untuk kelak memilih pasangan hidupnya.
Sikap ayah pada anak perempuan dan ibunya pun dapat membangun persepsi seorang anak perempuan tentang laki-laki.
Saat anak perempuan merasa ia tercantik di mata ayahnya, meski ia berbadan gemuk dan berkulit gelap, terbangun rasa percaya dirinya.
Dari seorang ayah anak belajar bagaimana semestinya bergaul dengan laki-laki dan orang yang tepat untuk dijadikan tempat curhat anak perempuan tentang laki-laki seharusnya adalah ayahnya, karena ayah tahu laki-laki seperti apa yang tidak baik untuk anak perempuannya.
Anak perempuan yang tidak mendapat perhatian dari ayah, ia akan mencari perhatian & kasih sayang laki-laki diluaran sana.
Begitu berharganya anak perempuan, sampai disampaikan melalui hadist bahwa orangtua yang mendidik dengan baik anak perempuannya maka anak perempuannya yang solehah akan menjadi penghalang orangtua dari api neraka (HR. Muslim)
PERAN AYAH UNTUK ANAK PEREMPUAN
Sosok ayah bagi anak perempuan, menjadi tolak ukur untuk kelak memilih pasangan hidupnya.
Sikap ayah pada anak perempuan dan ibunya pun dapat membangun persepsi seorang anak perempuan tentang laki-laki.
Saat anak perempuan merasa ia tercantik di mata ayahnya, meski ia berbadan gemuk dan berkulit gelap, terbangun rasa percaya dirinya.
Dari seorang ayah anak belajar bagaimana semestinya bergaul dengan laki-laki dan orang yang tepat untuk dijadikan tempat curhat anak perempuan tentang laki-laki seharusnya adalah ayahnya, karena ayah tahu laki-laki seperti apa yang tidak baik untuk anak perempuannya.
Anak perempuan yang tidak mendapat perhatian dari ayah, ia akan mencari perhatian & kasih sayang laki-laki diluaran sana.
Begitu berharganya anak perempuan, sampai disampaikan melalui hadist bahwa orangtua yang mendidik dengan baik anak perempuannya maka anak perempuannya yang solehah akan menjadi penghalang orangtua dari api neraka (HR. Muslim)
Langganan:
Komentar (Atom)













